Melihat Asal-Usul Nenek Moyang di Museum Purba Sangiran

By | 23 Mei 2017
Karisidenan Surakarta mempunyai satu museum arkeologi yang terkenal hingga mancanegara. Museum tersebut adalah Museum Purbakala Sangiran. Letaknya di Kalijambe, Kabupatem Sragen, Jawa Tengah. Museum Sangiran telah diakui dunia dan masuk ke dalam salah satu situs warisan dunia No. 593 UNESCO sejak 5 Desember 1996, bertepatan dengan peringatan ke-20 tahun UNESCo di Merida, Meksiko. Luas situs Sangiran adalah 56 kilometer persegi. Saking luasnya, secara administratif daerah Sangiran meliputi tiga kecamatan, yakni Kecamatan Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh yang masuk wilayah Kabupaten Sragen, serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Museum Purbakala Sangiran mempunyai atraksi wisata utama berupa arena penelitian kehidupan prasejarah terpenting dan terlengkap di Asia. Situs Sangiran pertama kali didatangi oleh Eugene Dubois pada tahun 1893 untuk meneliti keadaan arkeologis di sana. Selanjutnya, L.J.C. van ES memetakan Sangiran dan sekitarnya secara geografis pada tahun 1932. Pada tahun 1934, G.H.R. von Koenigswald menggunakan peta tersebut untuk melakukai survai eskploratif. Von Koenigswald menemukan beberapa artefak prasejarah. Dia juga menemukan fosil-fosil hominid pada tahun 1936 hingga tahun 1941, termasuk fosil Homo erectus. Kini, sejak tahun 2007, Situs Sangiran berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bangunan Museum Sangiran bergaya Joglo dan terdiri dari beberapa ruang. Selain ruang pameran, ada aula, perpustakaan, laboratorium, ruang audio visual, dan gudang penyimpanan. Pengelola situs Sangiran bertekad untuk terus membenahi dan menambah bangunan serta fasilitas pendukung agar keberadaan situs Sangiran sebagai warisan dunia dapat dipertegas dan dipertahankan. Museum Purbakala Sangiran menyimpan setidaknya lima jenis koleksi. Fosil manusia merupakan jenis koleksi pertama yang dapat ditemukan di Sangiran. Replika fosil Homo soloensi, Australopithecus africanus, Pithecanthropus mojokertensis, Homo neanderthal Eropa dan Asia, serta Homo sapiens adalah beberapa objek pameran di Museum Purbakala Sangiran. Selanjutnya adalah fosil binatang. Museum Sangiran menyimpan fosil gajah purba, kerbau, harimau purba, babi, badak, sapi, banteng, rusa, dan domba. Untuk binatang air laut dan tawar, Sangiran menyimpan fosil buaya, ikan, kepiting, kuda nil, moluska kelas Pelecypoda dan Gastropoda, kura-kura, foraminifera, dan gigi ikan hiu. Pengunjung juga dapat melihat kondisi tanah pada jaman prasejarah. Ada peninggalan batuan berupa rijang, diatom, kalsedon, dan batu meteor. Ada juga artefak batu yang digunakan manusia purba untuk membantu kesehariannya, seperti serut dan gurdi, serpih dan bilah, bola batu, kapak perimbas-peletak, dan kapak persegi. Fasilitas pendukung Museum Sangiran adalah area parkir, toilet, mushola, dan kios suvenir. Penjual suvenir adalah warga setempat yang menjual kerajinan tangan batu indah bertuah. Bahan baku kerajinan tangan ini didapatkan dari Kali Cemoro, sungai yang mengelilingi Kubah Sangiran. Saat ini, Sangiran telah menjadi destinasi wisata edukatif favorit kelas dunia. klik https://docar.co.id untuk mengetahui lebih lanjut tentang harga rental mobil solo murah

Karisidenan Surakarta mempunyai satu museum arkeologi yang terkenal hingga mancanegara. Museum tersebut adalah Museum Purbakala Sangiran. Letaknya di Kalijambe, Kabupatem Sragen, Jawa Tengah. Museum Sangiran telah diakui dunia dan masuk ke dalam salah satu situs warisan dunia No. 593 UNESCO sejak 5 Desember 1996, bertepatan dengan peringatan ke-20 tahun UNESCo di Merida, Meksiko.

Luas situs Sangiran adalah 56 kilometer persegi. Saking luasnya, secara administratif daerah Sangiran meliputi tiga kecamatan, yakni Kecamatan Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh yang masuk wilayah Kabupaten Sragen, serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Museum Purbakala Sangiran mempunyai atraksi wisata utama berupa arena penelitian kehidupan prasejarah terpenting dan terlengkap di Asia.

Situs Sangiran pertama kali didatangi oleh Eugene Dubois pada tahun 1893 untuk meneliti keadaan arkeologis di sana. Selanjutnya, L.J.C. van ES memetakan Sangiran dan sekitarnya secara geografis pada tahun 1932. Pada tahun 1934, G.H.R. von Koenigswald menggunakan peta tersebut untuk melakukai survai eskploratif. Von Koenigswald menemukan beberapa artefak prasejarah. Dia juga menemukan fosil-fosil hominid pada tahun 1936 hingga tahun 1941, termasuk fosil Homo erectus. Kini, sejak tahun 2007, Situs Sangiran berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bangunan Museum Sangiran bergaya Joglo dan terdiri dari beberapa ruang. Selain ruang pameran, ada aula, perpustakaan, laboratorium, ruang audio visual, dan gudang penyimpanan. Pengelola situs Sangiran bertekad untuk terus membenahi dan menambah bangunan serta fasilitas pendukung agar keberadaan situs Sangiran sebagai warisan dunia dapat dipertegas dan dipertahankan.

Museum Purbakala Sangiran menyimpan setidaknya lima jenis koleksi. Fosil manusia merupakan jenis koleksi pertama yang dapat ditemukan di Sangiran. Replika fosil Homo soloensi, Australopithecus africanus, Pithecanthropus mojokertensis, Homo neanderthal Eropa dan Asia, serta Homo sapiens adalah beberapa objek pameran di Museum Purbakala Sangiran.

Selanjutnya adalah fosil binatang. Museum Sangiran menyimpan fosil gajah purba, kerbau, harimau purba, babi, badak, sapi, banteng, rusa, dan domba. Untuk binatang air laut dan tawar, Sangiran menyimpan fosil buaya, ikan, kepiting, kuda nil, moluska kelas Pelecypoda dan Gastropoda, kura-kura, foraminifera, dan gigi ikan hiu.

Pengunjung juga dapat melihat kondisi tanah pada jaman prasejarah. Ada peninggalan batuan berupa rijang, diatom, kalsedon, dan batu meteor. Ada juga artefak batu yang digunakan manusia purba untuk membantu kesehariannya, seperti serut dan gurdi, serpih dan bilah, bola batu, kapak perimbas-peletak, dan kapak persegi.

Fasilitas pendukung Museum Sangiran adalah area parkir, toilet, mushola, dan kios suvenir. Penjual suvenir adalah warga setempat yang menjual kerajinan tangan batu indah bertuah. Bahan baku kerajinan tangan  ini didapatkan dari Kali Cemoro, sungai yang mengelilingi Kubah Sangiran. Saat ini, Sangiran telah menjadi destinasi wisata edukatif favorit kelas dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *